2012 - Warbird Draft
Headlines News :

Atlantis benua yang hilang

Written By Warbirdcanal on Saturday, September 29, 2012 | 8:19 AM

Musibah alam beruntun dialami Indonesia. Mulai dari tsunami di Aceh hingga yang mutakhir semburan lumpur panas di Jawa Timur. Hal itu mengingatkan kita pada peristiwa serupa di wilayah yang dikenal sebagai Benua Atlantis. Apakah ada hubungan antara Indonesia dan Atlantis?

Plato (427 – 347 SM) menyatakan bahwa puluhan ribu tahun lalu terjadi berbagai letusan gunung berapi secara serentak, menimbulkan gempa, pencairan es, dan banjir. Peristiwa itu mengakibatkan sebagian permukaan bumi tenggelam. Bagian itulah yang disebutnya benua yang hilang atau Atlantis.
 
 
 
 
 
Penelitian mutakhir yang dilakukan oleh Aryso Santos, menegaskan bahwa Atlantis itu adalah wilayah yang sekarang disebut Indonesia. Setelah melakukan penelitian selama 30 tahun, ia menghasilkan buku Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization of Plato’s Lost Civilization (2005). Santos menampilkan 33 perbandingan, seperti luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung berapi, dan cara bertani, yang akhirnya menyimpulkan bahwa Atlantis itu adalah Indonesia. Sistem terasisasi sawah yang khas Indonesia, menurutnya, ialah bentuk yang diadopsi oleh Candi Borobudur, Piramida di Mesir, dan bangunan kuno Aztec di Meksiko.

Bukan kebetulan ketika Indonesia pada tahun 1958, atas gagasan Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja melalui UU no. 4 Perpu tahun 1960, mencetuskan Deklarasi Djoeanda. Isinya menyatakan bahwa negara Indonesia dengan perairan pedalamannya merupakan kesatuan wilayah nusantara. Fakta itu kemudian diakui oleh Konvensi Hukum Laut Internasional 1982. Merujuk penelitian Santos, pada masa puluhan ribu tahun yang lalu wilayah negara Indonesia merupakan suatu benua yang menyatu. Tidak terpecah-pecah dalam puluhan ribu pulau seperti halnya sekarang.

Santos menetapkan bahwa pada masa lalu itu Atlantis merupakan benua yang membentang dari bagian selatan India, Sri Lanka, Sumatra, Jawa, Kalimantan, terus ke arah timur dengan Indonesia (yang sekarang) sebagai pusatnya. Di wilayah itu terdapat puluhan gunung berapi yang aktif dan dikelilingi oleh samudera yang menyatu bernama Orientale, terdiri dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.

Teori Plato menerangkan bahwa Atlantis merupakan benua yang hilang akibat letusan gunung berapi yang secara bersamaan meletus. Pada masa itu sebagian besar bagian dunia masih diliput oleh lapisan-lapisan es (era Pleistocene). Dengan meletusnya berpuluh-puluh gunung berapi secara bersamaan yang sebagian besar terletak di wilayah Indonesia (dulu) itu, maka tenggelamlah sebagian benua dan diliput oleh air asal dari es yang mencair. Di antaranya letusan gunung Meru di India Selatan dan gunung Semeru di Jawa Timur. Lalu letusan gunung berapi di Sumatera yang membentuk Danau Toba dengan pulau Somasir, yang merupakan puncak gunung yang meletus pada saat itu. Letusan yang paling dahsyat di kemudian hari adalah gunung Krakatau (Krakatoa) yang memecah bagian Sumatera dan Jawa dan lain-lainnya serta membentuk selat dataran Sunda.

Atlantis berasal dari bahasa Sanskrit Atala, yang berarti surga atau menara peninjauan (watch tower), Atalaia (Potugis), Atalaya (Spanyol). Plato menegaskan bahwa wilayah Atlantis pada saat itu merupakan pusat dari peradaban dunia dalam bentuk budaya, kekayaan alam, ilmu/teknologi, dan lain-lainnya. Plato menetapkan bahwa letak Atlantis itu di Samudera Atlantik sekarang. Pada masanya, ia bersikukuh bahwa bumi ini datar dan dikelilingi oleh satu samudera (ocean) secara menyeluruh. Ocean berasal dari kata Sanskrit ashayana yang berarti mengelilingi secara menyeluruh. Pendapat itu kemudian ditentang oleh ahli-ahli di kemudian hari seperti Copernicus, Galilei-Galileo, Einstein, dan Stephen Hawking.

Santos berbeda dengan Plato mengenai lokasi Atlantis. Ilmuwan Brazil it berargumentasi, bahwa pada saat terjadinya letusan berbagai gunung berapi itu, menyebabkan lapisan es mencair dan mengalir ke samudera sehingga luasnya bertambah. Air dan lumpur berasal dari abu gunung berapi tersebut membebani samudera dan dasarnya, mengakibatkan tekanan luar biasa kepada kulit bumi di dasar samudera, terutama pada pantai benua. Tekanan ini mengakibatkan gempa. Gempa ini diperkuat lagi oleh gunung-gunung yang meletus kemudian secara beruntun dan menimbulkan gelombang tsunami yang dahsyat. Santos menamakannya Heinrich Events.

Dalam usaha mengemukakan pendapat mendasarkan kepada sejarah dunia, tampak Plato telah melakukan dua kekhilafan, pertama mengenai bentuk/posisi bumi yang katanya datar. Kedua, mengenai letak benua Atlantis yang katanya berada di Samudera Atlantik yang ditentang oleh Santos. Penelitian militer Amerika Serikat di wilayah Atlantik terbukti tidak berhasil menemukan bekas-bekas benua yang hilang itu. Oleh karena itu tidaklah semena-mena ada peribahasa yang berkata, “Amicus Plato, sed magis amica veritas.” Artinya,”Saya senang kepada Plato tetapi saya lebih senang kepada kebenaran.” Namun, ada beberapa keadaan masa kini yang antara Plato dan Santos sependapat. Yakni pertama, bahwa lokasi benua yang tenggelam itu adalah Atlantis dan oleh Santos dipastikan sebagai wilayah Republik Indonesia. Kedua, jumlah atau panjangnya mata rantai gunung berapi di Indonesia. Di antaranya ialah Kerinci, Talang, Krakatoa, Malabar, Galunggung, Pangrango, Merapi, Merbabu, Semeru, Bromo, Agung, Rinjani. Sebagian dari gunung itu telah atau sedang aktif kembali.

Ketiga, soal semburan lumpur akibat letusan gunung berapi yang abunya tercampur air laut menjadi lumpur. Endapan lumpur di laut ini kemudian meresap ke dalam tanah di daratan. Lumpur panas ini tercampur dengan gas-gas alam yang merupakan impossible barrier of mud (hambatan lumpur yang tidak bisa dilalui), atau in navigable (tidak dapat dilalui), tidak bisa ditembus atau dimasuki. Dalam kasus di Sidoarjo, pernah dilakukan remote sensing, penginderaan jauh, yang menunjukkan adanya sistim kanalisasi di wilayah tersebut. Ada kemungkinan kanalisasi itu bekas penyaluran semburan lumpur panas dari masa yang lampau.

Bahwa Indonesia adalah wilayah yang dianggap sebagai ahli waris Atlantis, tentu harus membuat kita bersyukur. Membuat kita tidak rendah diri di dalam pergaula internasional, sebab Atlantis pada masanya ialah pusat peradaban dunia. Namun sebagai wilayah yang rawan bencana, sebagaimana telah dialami oleh Atlantis itu, sudah saatnya kita belajar dari sejarah dan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan mutakhir untuk dapat mengatasinya
 

Planet WASP-12b

Joseph Harrington, astronom dan profesor dari University of Central Florida, Amerika Serikat, dan timnya menemukan bahwa terdapat lebih banyak karbon dibanding oksigen pada atmosfir planet WASP-12b. Planet itu berjarak 1.200 tahun cahaya dari Bumi.




Temuan ini mengindikasikan bahwa bebatuan yang ada di seluruh planet itu terdiri dari karbon murni, dalam bentuk berlian atau grafit. Meski belum bisa dipastikan, tetapi planet yang sangat kaya akan karbon itu kemungkinan juga memiliki inti berlian dalam jumlah besar.

“Secara umum, planet biasanya memiliki jumlah oksigen yang sangat banyak yang membuat bebatuan seperti kuarsa dan gas seperti karbon dioksida bisa tersedia dalam kuantitas besar,” kata Harrington. Tetapi, kata Harrington, jika karbon lebih banyak dibanding oksigen, maka akan banyak batu-batuan yang terdiri dari karbon murni seperti berlian dan grafit. Selain itu akan ada banyak gas metana.

Tim peneliti melakukan analisa kimia berdasarkan teleskop ruang angkasa Spitzer milik NASA. Mereka membandingkan perilaku inframerah gas-gas yang ada untuk menentukan komposisi atmosfir planet yang bersangkutan. Meski karbon merupakan salah satu elemen penting yang membentuk kehidupan, WASP-12b tampaknya tidak dapat dihuni oleh makhluk hidup.

“Jaraknya terlalu dekat dengan mataharinya, dan setahun planet itu hanya berlangsung selama 26 jam saja,” kata Harrington. “Temperatur di siang hari pada planet yang diperkirakan bertaburan berlian itu juga sangat panas, mencapai sekitar 2.600 derajat Celcius. Planet itu juga rusak akibat besarnya gaya gravitasi dari mataharinya itu,” ucap Harrington.

Sebagai informasi, WASP-12b pertama kali ditemukan oleh konsorsium Wide Angle Search for Planets asal Inggris pada tahun 2009 lalu.

Bloodhound Super Sonic Car

Upaya manusia untuk menembus batas kecepatan tak pernah berhenti. Sekelompok tim dari Inggris berencana melampaui rekor kendaraan darat tercepat di dunia yang hingga kini belum juga terpecahkan, sejak 13 tahun lalu. Mobil ini dinamakan Bloodhound Super Sonic Car (SSC), ditargetkan untuk bisa melejit sekencang 1000 mil per jam atau sekitar 1600 km per jam, melampaui kecepatan kendaraan tercepat saat ini, Thrust SSC, yang bisa melesat hingga 763 mil per jam atau 1.228 km per jam.




Dengan kecepatan tersebut, Bloodhound bahkan mengalahkan kecepatan peluru yang ditembakan dari mulut pistol revolver Magnum 0.357 yang berkecepatan 441 meter per detik. "Kami mendapatkan banyak tawaran dari berbagai perusahaan di seluruh dunia, yang ingin menjadi sponsor," ujar Richard Noble, Direktur proyek pemecahan rekor, kepada BBC News.

Akibatnya lebih banyak pihak yang berniat menyediakan bantuan finansial, daripada kemampuan Bloodhound untuk mempromosikan perusahaan-perusahaan tersebut. Yang jelas, perusahaan-perusahaan penerbangan besar juga terlibat dalam proyek ini.
 
Seperti dikutip dari Physorg, Mesin Bloodhound ditenagai oleh kombinasi dari roket Falcon dan sebuah mesin jet EJ200 yang digunakan pada pesawat tempur Eurofighter Typhoon. Mesin jet ini mampu memproduksi daya dorong sekuat sembilan ton, sementara mesin roket akan menyediakan daya dorong tambahan sebesar 12 ton. Adapun bodi Bloodhound terbuat dari bahan bahan campuran yang tipis. Rodanya terbuat dari campuran aluminium padat, berbobot 97 kg, dan berdiameter 90 cm. Khusus untuk roda ini, Lockheed Martin, pembuat pesawat jet F-22 Raptor dan F-35, yang akan membuatnya.

Roda merupakan elemen yang cukup penting, karena diperkirakan roda kendaraan ini merupakan roda yang berputar dengan kecepatan tertinggi yakni mencapai 170 putaran per detik (sekitar 10.200 rpm). Tekanan pada bagian roda itu juga diperkirakan mencapai sekitar 150 megapascal. Sementara pembuat mesin jet pada mobil F-1, Cosworth, yang belum lama bergabung, akan terlibat dalam pembuatan salah satu unit power yang mengendalikan bagian liquid oxidiser pada roket Bloodhound. Dan Hampson Industries akan membangun bagian belakang dari mobil itu.

Pemecahan rekor ini sendiri akan dilaksanakan di Hakskeen Pan di Provinsi Cape bagian utara, Afrika Selatan. Pada trek sepanjang 20 km dan selebar 1,5 km itu, tidak boleh sama sekali ditemukan batu, karena bisa menyebabkan kecelakan yang sangat fatal.

Oleh karenanya, sekitar 300 orang lokal telah dikerahkan untuk membersihkan trek tersebut dari batu. Bloodhound musti melakukan dua kali lintasan untuk memecahkan rekor ini. Hasil kecepatan rata-ratanya itulah yang akan menjadi kecepatan resmi dari kendaraan itu. Richard Noble sendiri adalah orang yang juga mengepalai tim kendaraan Thrust SSC pada 1987, yang hingga kini rekornya masih belum terpecahkan. Bahkan, pada 1983 ia sendiri mengendarai Thrust 2 memecahkan rekor kendaraan tercepat di dunia, mengalahkan kecepatan Bluebird CN7.
 
 

Messerschmitt Bf 109

The Messerschmitt Bf 109 was a German World War II fighter aircraft designed by Willy Messerschmitt and Robert Lusser during the early to mid 1930s. It was one of the first true modern fighters of the era, including such features as an all-metal monocoque construction, a closed canopy, a retractable landing gear, and was powered by liquid-cooled, inverted-V12 aero engines. The 109 first saw operational service during the Spanish Civil War and was still in service at the dawn of the jet age at the end of World War II, during which time it was the backbone of the Luftwaffe's fighter force. From the end of 1941 the Bf 109 was supplemented, but never completely replaced in service, by the radial engined Focke-Wulf Fw 190.




The aircraft was given several nicknames by its operators and opponents, generally derived from the name of the manufacturer (Messer, Mersu, Messzer etc.), or the external appearance of the aircraft the G-6 variant was nicknamed by Luftwaffe personnel as Die Beule ("the bump/bulge") because of the cowling's characteristic covers for the breeches of the later Bf 109G's synchronized 13 mm (.51 in) MG 131 machine guns, while Soviet aviators nicknamed it as "the skinny one" for its sleek appearance. The names "Anton", "Berta", "Caesar", "Dora", "Emil", "Friedrich", "Gustav" and "Kurfürst" were derived from the variant's official letter designation (e.g. Bf 109G – "Gustav"), based on the German phonetic alphabet of World War II, a practice that was also used for other German aircraft designs.

Supermarine Spitfire

The Supermarine Spitfire is a British single-seat fighter aircraft used by the Royal Air Force and other Allied countries throughout the Second World War. The Spitfire continued to be used into the 1950s both as a front line fighter and in secondary roles. It was produced in greater numbers than any other British aircraft and was the only Allied fighter in production throughout the war.




The Spitfire was designed as a short-range high-performance interceptor aircraft by R. J. Mitchell, chief designer at Supermarine Aviation Works (since 1928 a subsidiary of Vickers-Armstrongs). Mitchell continued to refine the design until his death from cancer in 1937, whereupon his colleague Joseph Smith became chief designer. The Spitfire's elliptical wing had a thin cross-section, allowing a higher top speed than the Hawker Hurricane and several contemporary fighters. Speed was seen as essential to carry out the mission of home defence against enemy bombers.

Mitsubishi A6M Zero

The Mitsubishi Navy Type 0 Carrier Fighter also designated as the 'Mitsubishi A6M Rei-sen' and 'Mitsubishi Navy 12-shi Carrier Fighter', was a long range fighter aircraft operated by the Imperial Japanese Navy Air Service from 1940 to 1945. The A6M was usually referred to by the Allies as the "Zero", from the 'Navy Type 0 Carrier Fighter' designation. The official Allied reporting codename was Zeke.




When it was introduced early in World War II, the Zero was the best carrier-based fighter in the world, combining excellent maneuverability and very long range. In early combat operations, the Zero gained a legendary reputation as a "dogfighter", achieving the outstanding kill ratio of 12 to 1, but by 1942 a combination of new tactics and the introduction of better equipment enabled the Allied pilots to engage the Zero on more equal terms. The Imperial Japanese Naval Air Service also frequently used the type as a land-based fighter. By 1943, inherent design weaknesses and the increasing lack of more powerful aircraft engines meant that the Zero became less effective against newer enemy fighters that possessed greater firepower, armor, and speed, and approached the Zero's maneuverability. Although the Mitsubishi A6M was outdated by 1944, it was never totally supplanted by the newer Japanese aircraft types. During the final years of the War in the Pacific, the Zero was used in kamikaze operations. In the course of the war, more Zeros were built than any other Japanese aircraft.
 

P-51 Mustang

The North American Aviation P-51 Mustang was an American long-range single-seat World War II fighter aircraft. Designed and built in just 117 days, the Mustang first flew in Royal Air Force (RAF) service as a fighter-bomber and reconnaissance aircraft before conversion to a bomber escort, employed in raids over Germany, helping ensure Allied air superiority from early 1944.[2] The P-51 was in service with Allied air forces in Europe and also saw limited service against the Japanese in the Pacific War. At the start of Korean War the Mustang was the United Nations' main fighter but the role was quickly shouldered by jet fighters, including the F-86, after which the Mustang became a specialised ground-attack fighter-bomber. In spite of being superseded by jet fighters the Mustang remained in service with some air forces until the early 1980s.



As well as being economical to produce, the Mustang was a fast, well-made, and highly durable aircraft. The definitive version, the P-51D, was powered by the Packard V-1650, a two-stage two-speed supercharged version of the legendary Rolls-Royce Merlin engine, and was armed with six .50 caliber (12.7 mm) M2 Browning machine guns.
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Warbird Draft - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger